Tangan ku hitam penuh bekas goresan setelah berulang-ulang dinding rindu kuhantam. hatiku sesak tergenggam darah yang membeku, dingin, kisah ini menjadi membeku.
Kehangatan seolah menghilang pergi tanpa menoreh,tak ada jiwa hangat melelehkan,tak ada tangan yang sudi mengeluarkan,selalu sendiri membeku;tentangku menjadi sepi
Sudah lama jiwa ini berbalut dinginnya luka, tapi mengapa airmata ini tak dapat lebih dewasa.
Adakah rindu dalam jiwamu,rindu seperti aku yang bergelayut harapan, berharap kita telah menjadi aku dan kamu,haruskah kisah ini kupenggal dlm jarak spasi. meski aku tau km disanatidak hanya mengurus kisah ku dan harapku. tapi sepi ini terus tenggelam sesak.
bayang sepi selalu datang untuk menjemput jiwa kesedihanku, berhias gugur kamboja riwayat cinta dikuburkan dengan haru.
Biasanya selalu ada kebadian setelah kematian, haruskan aku tikam rasa ini hingga mampu menemukan keabadian cinta.
Air terus mengalir bersama detak waktu,tapi aku masih disini takmampu berdiri terbelenggu keheningan.
sayang; sekuat apapun aku hantam dinding kesepian ini, kepedihan tak akan mengembalikan pelukan yang telah kau niatkan.
aku takmampu pergi meski kau nyalakan api ksesdihan di sekelilingku hingga aku terbakar menjadi abu.
bila memang aku boleh berharap, bisa kah kau tak sengaja melukai jiwa ini sehingga kita bisa kembali merajut kehangatan yang selalu kau berikan pada jiwa yang sepi ini.
Tiada hal selalu aku igin selain pelukan hangat yang selalu meleburkan semua kisah ku.
Tapi sinar matamu dan kehangatanmu seolah gelap tenggelam, seolah tak ada lagi cinta dan kehangatan.
bahkan mentari kini sudah tak sudi lagi menghangatkan tubuhku, malam yang dingin meneteskan gemercik ksepian megekalkan megurung sepi.
Di kala mentari bersinar kau taburkan bibit cinta kau sirami dengankasih kini dia tumbuh dan sudah berbunga tapi kau dimana.
sekuntum bunga merekah merah merayu bak senyum manjamu merindu.
Di mana kau kini, mencintaimu aku seperti orang buta, takmampu melihat hanya mampu mersakan rindu
Saat kumasuki hatimu, kutemukan banyak nama tertulis di dindingnya. Dengan perlahan satu persatu kulepaskan
Merindukanmu, aku bagai kembara dalam hempasan badai, mencari arah memeluk mimpi tentangmu hingga derunya usai.
Sepi ini, siapa yang mau peduli selain diriku sendiri, menimati kelam yang diam diam merangkul sunyi.
Kutanya pada pelangi. Adakah kau sisakan manik-manik embun yg bisa kujalin menjadi untaian kalung bahagiaku. Hanya untuk aku
Kau bulan aku mendung, sebagai kekasih aku bimbang saat remangmu dinikmati banyak orang.
Tuhan, bagian puisi ini adalah doa yang belum kuselesaikan, dapatkah Kau kabulkan jika ia harapan setengah jalan.
Ya Robbi, jika #rindu adalah rasa sakit yang tak menemukan muaranya, jadikan kematianku sebagai muara pertemuanku dengan-Mu.
Oleh rindu aku ditempa, oleh cinta aku dibesarkan. Kerinduan yang dalam kupelihara dengan sepenuh-penuhnya kecintaan
Berbalut Sepi
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
