Sang Bidadari di tepi jalan

Ternyata inikah kehidupan nyata itu sang pencerah..
kini akupun merasakan betapa banyaknya perajalaan dan pengorbananmu..
kini disini aku berdiri tanpa belaian petuah - petuah mu yang selalu membangkitkan setiap mimpiku..
sang pencerah rasanya kini aku hanya bersandar bersama kepercayaanku sendiri tanpa aku mngerti benar atau salahnya..
Aku hanya berjalan melanjutkan mimpi dan asa, meski banyak sekali karang yang kokoh yang menyandung dan bahkan dunia pun kadang tak merestui perjalananku aku tetap memaksa untuk mereka semua untuk mau mengobati kehausan mimpiku.
Andai boleh aku berhayal sang perncerah aku hanya ingin memelukmu dan menceritakan seseorang yang seperti biasa ku ceritakan padamu, seperti dulu aku duduk di dekatmu dan kau memulai perbincangan yang begitu hangat dan lembut. sang pencerah kini aku dekat dengan seorang wanita yang sangat tangguh dan mampu berdiri dengan kokoh tapi di samping itu juga dia begiu memperlakukanku dengan lembut. setiap pagi di beridiri di dekat mesjid dan dia selalu memberikan senyum manja nan hangat menyambut kedatanganku seolah seperti seorang bidadari yang memberikan ketenangan dalam panasnya perjuangan ku melawn semua orang mengekang mimpiku..
tapi kadang suka terasa lucu hey sang pencerah ^_^ ketika dia jengkel mungkin dengin bibinya yang bgtu hangat dia selalu menundukan kepalanya dan memajukan bibirnya. bgtu lucu sang pencerah kalau mungkin kau skrang mendengarnya kau pun mampu tertawa ^_^ seperti ku yang tersenyum sekarang saat menulis cerita ini..
rasanya ceritaku dengannya meski hanya seumur jagung tapi sdah begitu banyak cerita yang sudah terlewatkan kami berjalan bersama menantang dunia yang selalu membelenggu mimpi kami.. kami terjang dengan kuat meski kadang kami harus saling menguatkan karena kami terkadang merasa rapuh dan tubuh ini terkadang merasa lelah dan menggil..
Kalau boleh mengeluh mungkin saat ini sang pencerah tau jalanku selanjutnya apa?
Dan sang pencerah ungkin tau sekarang apa yang harus ku lakukan untuk meredam rasa takutku.,! bukan takut akan dunia yang selalu membelengguku karena aku tau dan aku selalu siap untuk itu.. bukan orang-orang yang selalu mencemooh ku karena aku tau aku sudah siap dan telingaku sudah bisa menutup suara-suara itu,. bukan juga batu karang yang slelau menghambat dan bahkan melukai kaki ku saat aku berjalan dan berlari..
Tetapi aku takut tak Mampu lagi memeluknya merasakan manjnya mengagumi ketangguhannya dan tak mampu menyapa senyumnya di tepi jalan?..